Wanna Know You Better

Come back and tell me why
I’m feeling like I missed you all this time
Meet me here tonight
Let me know that it’s not all in my mind..

Partly sunny.. love it! – View on Path.

Partly sunny.. love it! – View on Path.

At Terminal Leuwi Panjang

Merantaulah, maka kau akan mengerti apa alasanmu kembali.. :-) – at Terminal Leuwi Panjang – See on Path.

Bermotor Matic Bukan Berarti Banci

Apa ku bilang, bung?
Lelaki dengan motor matic tak berarti banci.. tak seperti yg kau bilang mengapa mereka tidak sekalian saja pakai lipstick?

Masih belum sadar juga ya?
Bukankah sudah ada di depan mata?
Bahkan lelaki dengan motor gas, kopling, hingga ninja sekalipun menurutku merekalah yang banci.

Tak terlihatkah? Menyatakan perasaan pun mereka tidak bernyali.
Meninggalkan pasangan yang mereka ragukan untuk mendapat cinta yg (mungkin) lebih baik pun mereka takut, dan malah berusaha memiliki keduanya tanpa sadar mungkin akan ada yang tersakiti..

Akhirnya? Cinta memilih pergi, mencari lelaki sejati, meninggalkan mereka dengan sesak dan sesal yang menjadi..

Sekarang lihatlah, bung!
Mereka yang kau kira banci bahkan sudah mendapat apa yg mereka inginkan karena mereka berani menyatakan isi hati.

Sedangkan lelaki bermotor gas, kopling, dan ninja harus rela “kehilangan” orang yang mereka sayang karena mereka sama sekali bukan seorang “gentleman”.

Terimakasih telah membuka mataku.
Lelaki banci bukan yang naik motor matic, bung. Tapi mereka yang tak berani ungkapkan isi hati mereka. Memilih untuk memiliki banyak hati, bersembunyi, dan tertawa puas sendiri…

Lihat, ada keringat menetes pelan dari dahimu. Merasakah engkau, bung?

Tuhan, jika pilihanku terlalu tinggi, maka jatuhkanlah aku dengan hati-hati.
@julietnote (via kunamaibintangitunamamu)

Bagaimana Kamu?

Kelak, aku inginnya kamu bisa membimbingku. Menuntunku dalam segala hal. Agama, cinta, anak-anak, pendidikan, rumah tangga.. Semuanya..

Aku ini labil. Maka aku butuh kamu yang bisa meneguhkan pendirianku. Aku ini bodoh, maka aku butuh kamu yang bisa membuatku cerdas. Aku ini malas, kamu tahu kan? Maka aku butuh kamu supaya bisa merubahku menjadi wanita yang rajin dan telaten. Putri tidur menjadi wanita kuat, rajin, hebat. Pahalaku satu, maka tolong buat setiap solatku bernilai dua puluh tujuh. Kini aku sedang memperbaiki diri. Sulit, apalagi banyak hal tidak baik yang telah aku lakukan akhir-akhir ini. Denganmu.

Lalu bagaimana denganmu? Sudah sampai manakah kamu memperbaiki diri? Tolong jangan berubah untukku, atau karenaku. Berubahlah untuk Tuhan-Mu. Agar mudah kita lewati semua, - jika memang kata “aku” dan “kamu” bisa menjadi “kita”.

Jika “kita” tidak tercipta, maka kamu tidak akan menyesal karena telah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik sebelum mengenal aku, untuk Tuhan-Mu..

Dan pada saatnya nanti, mungkin kita akan melihat kehidupan kita jauh lebih baik dari ini. Entah bersama, atau mungkin masing-masing. Jangan takut berubah.. Aku akan bertemu dengan laki-laki yang pantas untukku, begitupun kamu. Jika kata pantas itu ada pada sosokmu, lalu aku bisa apa?

Bekasi, 23 Juli 2014

Aku percaya, orang-orang yang memang sepatutnya dipertemukan, apapun kondisinya, bagaimanapun caranya, pada akhirnya akan bertemu juga. Pertemuan kita adalah salah satunya.

Bosan

Yaa Allah, hamba bosan, Yaa Rab..

Hamba bosan bercakap dengannya, walau hanya menjawab pertanyaannya apakah aku sudah sahur atau belum, dimana aku, atau apapun, termasuk tentang hal-hal yang harus kami lakukan. Hamba bosan..

Rasanya percuma saat aku punya masalah, cerita padanya berharap dia mampu membantuku menyelesaikan masalah, nyatanya tidak. Nyatanya malah dia mengulangi kata-kata yang hamba sampaikan. Malah dia mengulur waktu kesana-kemari padahal aku hanya butuh nasihatnya. Dia pergi, dia berubah, dia tiada..

Kembali, tak ada keluarga dekat, bahkan dirinya sendiri yang mengaku kakak saja sudah tak aku indahkan lagi. No sense, no feeling..

Untung ada Engkau, Yaa Rabb. Engkau yang selalu tau isi hatiku. Engkau yang selalu disana melihatku tertawa, menangis, gembira, sedih, bingung, bosan.. Engkau yang tak pernah keberatan menjawab seluruh kebingunganku bahkan saat aku lupa menceritakan kepada-Mu. Engkau yang selalu mengerti hamba, Engkau.. Yaa Allah, terimakasih. :-)

Sebentar lagi..

Entah mengapa. Padahal hari juga masih pagi. Tapi rasanya malas sekali untuk mengangkat telepon dari orang yang biasa ku sebut sahabat. Entah karena aku hanya memanfaatkan sisa-sisa energiku menjalani rutinitas disini, entah karena aku sudah mulai lelah dan tak bergairah dengan semua kegiatan yang mesti ku lakukan. Entah karena memang sekarang sahabat bukan lagi menjadi orang yang mengerti semua keluh kesahku.. Entah..

Aku sudah terbiasa tersenyum walaupun sebenarnya banyak hal sulit yang harus aku lewati. Mereka bilang senyumku bisa memberi arti positif untuk hari-hari mereka. Mereka hanya tidak tahu, dan mereka tak perlu tahu berapa banyak keluh yang kulontarkan saat sendiri. Tak perlulah.. Tuhanku sudah mengetahui segala yang ada di hati dan pikiranku.

“Sebentar lagi, tenang saja.. Perjuangan kita akan berakhir sebentar lagi.. Dan kita tinggal menikmati manisnya..” kalimat itu yg selalu hatiku ucapkan saat melihat si empunya nya merasa letih. Iya, memang sebentar lagi. Tapi semakin sering ku anggap sebentar lagi, mengapa malah terasa semakin lama?